Wednesday, October 03, 2007

Nak, menangislah

Oleh Abdul Rozak
http://www.eramuslim.com/atk/oim/7925234006-menangislah-ramadhan-kan-hilang....htm

Nak, menangislah,
Jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubarimu. Bahwa Ramadhan sudah bergegas di akhir hitungan. Dan tadarus quranmu tak juga beranjak pada juz empat.jika itu adalah ungkapan penyesalanmu. jika itu merupakan awal tekadmu untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lailmu yang centang perenang (ah, pasti kamu masih ingat obrolan tadi siang ketika dengan senyum manisnya teman ruanganmu berucap, "alhamdulillah tarawihku belum bolong. " dan kamu merasa ada malaikat yang menjauh darimu dan pindah padanya. Kamu merasa sendiri, terasing.)

Menangislah,
Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir. Bahwa ada satu hamba Allah yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena. Yang katanya berdoa sejak dua bulan sebelum ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak rajab, yang katanya rajin mengikuti taklim tarhib ramadhan, tapi..., tapi sampai puasa hari ke tiga belas masih juga menggunjingkan kekhilafan teman ruanganmu, masih juga tak bisa menahan ucapan dari kesia-siaan, tak juga menambah ibadah sunnah... Bahkan hampir terlewat menunaikan yang wajib.

Menangislah, lebih keras...
Allah tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah kamu masih disertakan, sedangkan Ramadhan sekarang cuma tersisa beberapa belas. Tak ada yang dapat menjamin usiamu sampai untuk Ramadhan besok, sedang Ramadhan ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan hilang, bersama nostalgia yang terus tumbuh bersama usiamu. Setengah sadar menatap hidangan saat sahur, kolak-es buah yang tersaji saat berbuka, menyusuri gang sempit saat tadarus keliling, petasan dan kembang api yang disulut usai subuh. Ramadhan yang selalu membuka ingatan masa kecilmu dan terus terulang mengisi tahun-tahun kedewasaan...

Menangislah,
Untuk dosa-dosa yang belum juga diampuni, tapi kamu masih juga menambahi dengan dosa baru. Berapa kali kamu sholat taubat, tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang kamu buat? Kamu bilang tak sengaja? Tapi mengapa berulang dan tak juga kamu mengambil pelajaran? Syarat taubatan nasuha adalah bertekad tidak mengulanginya lagi dan bukannya bertobat sambil berucap 'kalau kejadian lagi, yaa taubat lagi'...

Menangislah.
Dan tuntaskan semuanya di sini, malam ini. Karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Tahu-tahu sudah sepuluh hari terakhir dan kamu belum bersiap untuk itikaf. Dan lembar-lembar quran menunggu untuk dikhatamkan. Dan keping-lembar mata uang menunggu disalurkan. Dan malam menunggu dihiasi sholat tambahan.
Sekarang, atau (mungkin) tidak (ada lagi) sama sekali...

Tuesday, October 02, 2007

Ya Rabb

Ya Rabb,
Tangisan ini sama sekali bukan kepalsuan belaka, sama sekali bukan.
Tangisan ini juga bukan tangisan sesaat, bukan, sama sekali bukan.

Ya Rabb,
Baru kali ini hamba merasakan beratnya melihat Ramadhan pergi.
Juga baru kali ini hamba merasa rugi melepas ibadah-ibadah Ramadhan.

Ya Rabb,
Sungguh hamba tak pantas meminta lebih kepadaMu.
Sungguh hamba-pun tak layak sujud dihadapanMu.

Tetapi Ya Rabb,
Hamba mohon agar sujud dan taubat ini Engkau terima.
Hamba juga mohon agar Ramadhan ini tak lekas berakhir.

Ya Rabb,
Aku ingin rinduku kepadaMu jauh tak tertakar.
Aku ingin cintaku kepadaMu jauh tak ternilai.

Ya Rabb,
Hamba mohon panggilan cintaMu kepadaku pada saat ku bersujud kepadaMu.
Hamba mohon panggilan cintaMu kepadaku pun ketika ku mencintaiMu.

Ya Rabb,
Akulah hamba yang tak pantas masuk surgaMu.
Namun hamba tetaplah manusia yang takut masuk nerakaMu.

...Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam jiwa hanyalah padaMu
Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMu
Dalam dada kuharap hanya diriMu yang bertahta...

Monday, September 24, 2007

Rapuh - Opick

Detik waktu terus berjalan
Berhias gelap dan terang
Suka dan duka tangis dan tawa
Tergores bagai lukisan

Seribu mimpi berjuta sepi
Hadir bagai teman sejati
Di antara lelahnya jiwa
Dalam resah dan air mata
Kupersembahkan kepadaMu
Yang terindah dalam hidup

Meski ku rapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam jiwa hanyalah padaMu
Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMu
Dalam dadaku harap hanyadiriMu yang bertahta

Detik waktu terus berlalu
Semua berakhir padaMu

Friday, September 21, 2007

Untuk wajah yang selalu cerah
Untuk jiwa yang selalu tenang
Untuk hati yang selalu terjaga
Untuk cinta yang selalu bersemi

Kupersembahkan senyuman ini untukmu
Kuserahkan cinta ini kepadamu
Hanya untukmu Bidadariku
Karena Allah aku mencintaimu

Sore, 9 Ramadhan 1428 H
Dari Pojokan Menteng

Sunday, September 16, 2007

"Padamu Rabbi ajarkan aku bagaimana berpikir sebelum bicara, memberi sebelum menuntut, untuk tetap tersenyum disaat kecewa,untuk tenang dikala gundah, untuk diam dikala gaduh dan bersahaja diatas kebenaran."

Terima kasih buat Orang tua, Keluarga, Sahabat, Bidadariku dan Teman-teman, tanpa kalian saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.