Showing posts with label Curhatz. Show all posts
Showing posts with label Curhatz. Show all posts

Tuesday, February 05, 2008

Suatu Senja di Cipinang Muara

“Slmlkm, bang nenek meninggal, tadi usi dapet info dari bapak. Usi lagi dijalan, abis uas langsung ke rumah nenek aja” m’sister, 2 Februari 2008 12:48

“Ass. Bang rencananya nenek mau dikuburin hari ini.” depu_sandra, 2 Februari 2008 14:23

Pesan singkat terakhir membuat fokusku buyar, hatiku tidak tenang dan pikiranku berantakan, soal-soal didepan mata semakin menjadi tidak menarik. Aku harus melihat nenek, cepat selesaikan ini!, pikirku. Pukul 3 kurang 15 menit, waktu ujianpun usai , ah akhirnya… sedikit lega memang namun aku masih tetap tidak bisa menenangkan diri. Kutinggalkan Deri dan Barito, cepat-cepat aku ambil motor di parkiran, kunyalakan mesin lalu kutancap gas. Aku hampir-hampir lupa akan keselamatanku, Agus yang menumpang dibelakang dan orang lain, entah berapa orang yang dongkol atas kelakuanku membawa motor kali ini. Ah… Nenek, jangan engkau pergi dulu, cucumu ini mau melihat wajahmu untuk yang terakhir kali, ya terakhir kali di dunia ini.

Agus kuturunkan di Shelter Busway Pasar Rebo, berbincang sebentar lalu kutancap gas, lagi-lagi aku hampir lupa akan keselamatanku dan orang lain, kali ini tanpa Agus.

Sekitar pukul 4 aku sudah sampai di gang rumah nenek, di kanan kiri terlihat beberapa bendera kuning bertuliskan : Ny. Daamah binti Dasmad, Rt 04/03. Ah… Nenek jangan kau pergi dulu.

Beberapa ratus meter dari rumah Nenek aku parkirkan motorku. “Git..!”, itu suara Bapak!, dari kumpulan para pelayat aku coba mencari asal suara itu, benar Bapak. Kutemukan beliau sedang duduk diluar rumah bersama dengan para pelayat lain, pakaiannya tidak serapih tadi pagi, mungkin habis mengurus jenazah Nenek. Dengan nafas yang masih terengah-engah aku hampiri beliau, aku cium tangannya dan kutanya :

“Nenek dimana pak?”

“Lagi dimandiin, Mamah juga didalem, ikut ngemandiin Nenek”, jawab beliau.

Ya Ibuku adalah anak ke 3 Nenek dari 7 bersaudara. Alhamdulillah sahutku dalam hati, aku masih diberi kesempatan untuk melihat wajahnya.

“Gita masuk pak”, pamitku.

“Nanti dulu Git, ini om Parno”, sahut beliau sambil memegang pundak seorang pria setengah baya disebelahnya.

Kutengok pria itu, kupasang senyum simpul dan kujabat tangannya. Hmm… Om Parno, aku ingat namanya tapi sudah lupa wajahnya, mungkin lebih dari 15 tahun kami tidak bertemu. Ah… siapapun itu sudah tidak dapat menarik perhatianku lagi, aku ingin cepat-cepat masuk dan melihat Nenek. Kucoba melepas jabatanku tapi Om Parno menggenggam tanganku, dari situ aku tahu kalau dia ingin mengobrol barang sebentar. Aku duduk disebelahnya untuk menghormatinya lalu dia bertanya :

“Abis ujian dimana?”

Mungkin Bapak sudah cerita tentang keterlambatanku, “Daerah Lenteng Agung Om”, jawabku, setelah pertanyaan itu omongan-omongannya sudah tidak lagi terdengar olehku, mungkin masuk ke telinga dan diproses diotak, tapi ternyata hati menolak. Hatiku masih tidak tenang, pikiranku hanya tertuju ke dalam rumah Nenek, maafkan aku om. Kutunggu omongannya selesai, setelah itu aku pamit kedalam.

Didalam aku temukan Nenek sedang dimandikan oleh beberapa ibu-ibu, ya Ibuku memang termasuk para pemandi jenazah Nenek. Untuk sementara aku tidak bisa mendekat sambil menunggu selesainya pemandian, aku duduk di halaman samping rumah disebelah adikku yang sudah lebih awal sampai. Mungkin tidak akan ada pembicaraan kalau bukan adikku yang memulai, aku pikir dia yang lebih merasa kehilangan karena belakangan baru aku tahu kalau setiap ada pembicaraan tentang Nenek dia selalu menunjukkan perhatiannya kepada Nenek.

“Udah selesai bang ujiannya?”, tanyanya sambil menoleh ke wajahku.

“Udah”, jawabku. Dan kami kembali membisu.

Tak lama pemandian jenazah selesai, kulihat Ibuku keluar sambil membawa sebuah baskom berisi air entah untuk apa, air itu ditaruh disebelah bangku didepanku. Lengan bajunya terlihat masih terlipat sampai sikut, pun bajunya banyak terdapat bekas cipratan air. Buru-buru aku hampiri ibuku lalu kucium tangannya,

“Baru sampe Git?”, tanyanya

“Iya Mah”, jawabku

Belum sempat aku perhatikan raut muka Ibuku, beliau langsung berlalu kembali ke dalam, mungkin untuk mengkafani jenazah Nenek pikirku. Benar saja, tak lama jenazah Nenek diangkat masuk ke dalam ruang utama rumah, buru-buru aku ikut kedalam.

Didalam, para pemandi jenazah dan semua anak perempuan Nenek mengkafani jenazah Nenek dengan sangat hati-hati. Aku duduk menghadap jenazah Nenek tepat didepan kaki beliau, sesekali isak tangis aku dengar tapi itu tak mengganggu pekerjaanku untuk memperhatikan wajahnya yang sudah tak terhitung kerutannya, perhatian itu membangkitkan memoriku dimana aku, Nenek, Orang Tuaku dan saudara-saudara yang lain berkumpul. Senyumnya, tawanya, cerita-ceritanya tentang masa kecilku, segala nasihatnya yang lebih sering aku abaikan, ya Rabb perasaan apakah ini? Baru kali ini perasaan ini hamba rasakan. Apakah ini yang banyak manusia lain sebut dengan Kehilangan?, kalau benar begitu betapa kuat dua sahabatku yang kemarin hari melepas kepergian ayahanda tercinta mereka. To, Nggo... sekarang aku mengerti apa yang kalian pernah rasakan saat itu.

Didalam lamunanku dalam posisi masih menghadap jenazah Nenek aku teringat kata-kata Bang Mamun beberapa waktu yang lalu : “Menangislah, karena menangis bukan hanya milik wanita”, ah... cepat-cepat aku usir pikiran itu, aku bangkit dari dudukku lalu pergi ke kamar Nenek. Disana, memori berbeda dari beberapa bulan yang lalu bangkit, ketika aku menyuguhkan bubur kacang kepadanya, ketika beliau menyuruhku minum lalu makan dan ketika beliau mencegahku untuk tidak pulang terlalu cepat. Ah... Nenek, andai aku mengikuti perintahmu untuk menginap barang sehari disana.

Mataku masih liar menjelajahi sudut-sudut kamar beliau, diatas meja disebelah kasurnya aku temukan sebuah piring kaca berisi pisang goreng, ya Rabb ini mungkin pisang goreng yang belum sempat beliau makan tadi pagi. Mataku kembali liar, aku yakin pandanganku tidak kosong namun selama menjelajahi kamar dengan mata, yang kudapatkan hanya memori-memori yang lalu. Ya Rabb, tenangkanlah beliau, lapangkanlah kuburnya, terimalah beliau di tempat terbaikMu Ya Rabb...

Aku kembali mengikuti proses pengkafanan di ruang utama rumah, setelah selesai anak dan cucu-cucu beliau diperkenankan mencium pipi sambil berdoa. Tiba giliranku, aku cium pipi kiri nenek sambil berdoa dalam hati, “Ya Rabb tenangkanlah beliau, lapangkanlah kuburnya dan terimalah beliau di tempat terbaikMu, amin..., maafkan cucumu ini Nek...”. Alhamdulillah prosesi pemakaman berjalan lancar, tidak ada hambatan. Pemakaman selesai sekitar ½ 6, dan kami rombongan keluarga meninggalkan pemakaman untuk kembali ke rumah duka.

Manusia dengan penuh cinta kasih yang saat ini aku akui bahwa aku sayang kepadanya telah pergi. Tidak perlu ada tangisan, karena bagiku ini adalah panggilan cinta Sang Pencipta kepada makhlukNya, akupun yakin ini yang terbaik untuk Nenek. Ya Rabb beliau adalah tamuMu, sungguh Engkau adalah sebaik-baik penyuguh tamuMu ya Rabb.

Manusia : lahir, muda, tua lalu meninggal, ketika mata-mata tertutup yang diingiri dengan tangisan duka, mata-mata yang lain terbuka diiringi dengan tangisan suka, semuanya terasa begitu cepat. Aku pikir kenikmatan hidup bukan dinilai dari seberapa lama manusia itu hidup di dunia, tapi seberapa banyak manusia itu menjadi manfaat bagi sesama manusia. Dan Nenekku telah membuktikan bahwa beliau adalah manusia yang bermanfaat bagi yang lain.

Selamat jalan Nek, doa cucumu ini selalu menyertaimu.

Friday, February 01, 2008

Bagiku cinta adalah bangunan abstrak di otak. Maka segala alasan yang menahanku untuk lari dari cinta juga merupakan alasan-alasan yang bersifat abstrak. Sulit diungkapkan secara verbal atau dirangkai dengan kata-kata, namun sangat jelas tersirat dan sangat kuat tertancap di hati. Lantas apakah aku harus bersandar pada bangunan dan alasan-alasan abstrak tersebut? Entah, biar waktu yang menjawab.

"Ya muqollibal qulub, tsabit qolbi ‘ala tho’aatik, tsabit qolbi ‘ala syari’atik, tsabit qolbi ‘ala da’watik"

Tuesday, January 08, 2008

Curhatan Tak Berjudul

Tetralogi Buru hasil karya Pramoedya Ananta Toer berhasil menyihir gw, gaya bahasa dan cara menyampaikan sesuatu yang sangat khas Pram(menurut penilaian gw) menarik hati ini untuk mencoba-coba gaya bahasanya* (kalau merasa gak ada nuansa Pram-nya sama sekali, dipersilahkan menekan tombol close pada browser anda =D). Kebetulan!, sekaligus menjawab pertanyaan 1 teman dan 1 Abang gw, dan hasilnya seperti dibawah ini :

Mas Soleh adalah orang kedua setelah Eva pada hari kemarin yang menanyakan status blog gw, masih hidup atau sudah tamat. Gak ada inspirasi? Bukan. Males? Bukan, bukan sama sekali. Diotak yang tidak terlalu besar ini telah bertumpuk pemikiran-pemikiran dari berbagai bidang atau bahkan sekedar sumpah serapah kedongkolan atas beberapa sikap maupun perbuatan badut-badut politik. Terkadang dalam kegelapan sebelum tidurpun otak ini masih enggan berhenti bekerja, semua yang ada didalamnya dimuntahkan lantas dijejerkan seakan memaksa tubuh yang sudah tergeletak tak berdaya di atas kasur ini untuk bangkit menyalakan lampu dan mencoba menulis sesuatu. Dan bukan hanya otak, PC dan Monitor dan jam dinding dari Sang Bidadari dan tumpukan kertas kerjaan dan baju-baju yang tergantung lepas pada gantungan baju seakan berbicara, seakan semuanya bersorak memberi semangat untuk menulis. Hanya tumpukan buku yang membelot, meminta cepat dihabiskan. Dan diri ini masih tetap berteriak dalam kebisuan.

Sibuk, lebih tepatnya so sibuk! dan parahnya semuanya dijalani secara tidak teratur. Ini mungkin manifestasi ketidakbecusan memanfaatkan libur panjang kemarin. Waktu luang yang banyak seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kembali merancang sekaligus merapihkan rancangan kegiatan yang telah direncanakan. Dan sekarang sudah tidak mungkin lagi menyesali waktu yang telah lewat. Semua harus dijalani sembari menanti waktu luang untuk merapihkan rancangan kegiatan. Sayang belum dapat mencuri waktu luang, kalaupun dapat hanya bisa menghasilkan curhatan sepanjang ini. Dalam situasi seperti ini terkadang ingin sekali saja(ya, untuk saat ini cukup sekali saja!, bukan begitu bu? =D) melihat senyuman Sang Bidadari nan jauh disana, sekiranya dapat, mungkin diri ini akan diliputi aura semangat dan tangan dengan lima jarinya mungkin akan merangsek masuk ke dalam rongga dada ini sekaligus membelai organ hati yang ada didalamnya. Semangat!

Kemarin gw sempat melihat postingan terakhir dari blog sahabat gw. Kreatif. Setelah meminta izin terlebih dahulu untuk meletakkannya juga diblog gw plus satu gambar tambahan gw, maka hasilnya seperti dibawah ini (yang kurang lebih mewakili keinginan gw saat ini) :




* dengan AKU diganti menjadi GW

Monday, December 24, 2007

Diri, Hidup, Kebenaran.
Ah, semakin tidak mengerti.
241207

En apretado siento absolutamente
Y en apretado siento solamente
251207

J'ai été trouvé la réponse, j'espère que c'est vrai.
Je t'aime mon Rabb.
261207

Stark sagen.
Liebe wurde mit Hass gebrannt.
271207

Il mio fratello realmente molto molto riconosce circa amore
gli articoli su amore
281207

Monday, December 03, 2007

Turn Peterpan ON



Kita pernah bermimpi buat selalu bisa ngumpul seperti dulu, tapi it can't be helped, kita punya mimpi & kesibukan masing-masing. Sekarang jarak dan waktu seakan jadi penghalang, tapi itu bukan berarti persahabatan kita menghilang, sama sekali bukan. Jarak & waktu boleh jadi penghalang, tapi gw yakin kalian semua sering senyum2 sendiri klo lagi inget masa2 manis n pahit yang pernah kita jalanin bersama. Jadi, jangan kecewa klo rencana2 ngumpul sering gagal, yakin dunk ah pasti suatu hari nanti entah kapan, kita bisa ngumpul2 lagi :)

Buat Derex yang lagi sibuk2nya setelah naek jabatan, MSI, Handover, Crossconnect, ODU & IDU sampe apal gw rek =P
Buat Djitoh yang lagi tugas di Bogor, cepet pulang to anak2 lu dah nungguin tuh =P, eia klo dah balik salam buat Nyokap :)
Buat Botak yang roman2nya pengen buru2 jadi sarjana, udeh lu siapin aja makanan yang banyak tak gw pasti nginep lagi kok =D
Buat Gonggo yang lagi sibuk sama kuliahnya, gw yakin Bokap mau ngeliat lu sukses n tersenyum "disana", tetep semangat ya go :)
Buat Babeh yang lagi sibuk ngurusin migrasi vmware, udah nginep aja beh, gw siap donlot kok err.. maksute nemenin =D
Buat Mbong yang lagi pusing ngerenov dapur rumah, sante aja mbong cewe emang begitu =D
Buat Eva yang lagi pusing mikirin Perth, udeh... ga pake lama, susul aja va =D
Buat Konyan yang duitnya belum gw balikin, gw inget ko nyan sama traktiran bakso keju yang gw janjiin =P
Buat Enda yang lagi sibuk sama usaha barunya, klo ada waktu sempetin ngumpul ye nda ;)
Buat Pudin yang lagi...., no komen din =D
Buat Adhi yang waktu pindahan kaga bilang2, siap2 aja dhi pasti anak2 ngerepotin nyokap lu lagi kok =D
Buat Minang yang lagi ditugasin di Palembang, tetep kejer impian lu nang gw pasti dukung kok ;)
Buat Imam yang lagi ngebet ngajakin ke Bali, gimana klo ke UI aja mam kan ada pantainya juga tuh *itu danau yat bukan pantai =P*
Buat Adhay & Hesti yang lagi sibuk sama "persiapannyah", semangat ye gw siap ko jadi pager betisnyah =D
Buat Rizki yang udah jadi ibu rumah tangga, kapan gw bisa dipanggil om nih ki =D
Buat Nana yang dah jarang maen ke kantor gw, klo lu maen kemari lagi javascriptnya gw transfer na =D
Buat Kobal, Dede, Arif, Angay, Hendra & Davi yang dah lama gak keliatan batang idungnyah, kapan nih bisa ngumpul lagi?

"...orang lain boleh datang dan pergi di kehidupan kita, tapi yang namanya sahabat sejati bakalan ada terus di hati..."
For y'all I'll turn peterpan on, it always bring back memories, eitu tolong ya babeh jangan nutup kuping =P

Pojokan Menteng,
hdytsgt yang lagi kangen.

Tuesday, October 09, 2007

Sholat belumlah khusyuk.
Tilawahpun masih terhitung.
Qiyamullail?, ah aku malu menjawabnya.

Ramadhan bergegas pergi.
Tapi penyakit jiwa masih bersarang dihati.
Inikah Ramadhan terakhir? aku sendiri tidak mengerti.

Oh Rabb, hamba merasa malu nan merugi.
Meskipun begitu sisa Ramadhan akan tetap hamba kais.
Dan belaian cintaMu akan tetap hamba cari.

Thursday, October 04, 2007

Asas Tunggal : Manifestasi Ketidakmampuan

Wacana asas tunggal pancasila sebagai satu-satunya asas bagi partai politik baru-baru ini dihembuskan, pelopornya fraksi-fraksi dari 3 partai besar di DPR, antara lain Fraksi Partai Golkar, Fraksi PDI Perjuangan dan Fraksi Partai Demokrat. Banyak parpol, ormas maupun individu yang melontarkan pendapatnya tentang wacana tersebut. HMI menyebut bahwa asas tunggal sebagai teror konsolidasi demokrasi, sedangkan Bursah Zarnubi dari FPBR menilai penyeragaman tersebut akan mengkhianati Reformasi.

Gw setuju dengan 2 penilaian diatas, penyeragaman asas tunggal sama halnya dengan mengebiri demokrasi, jangan sampai demokrasi yang mulai merangkak naik pamor setelah reformasi dibabat habis secara sistematis begitu saja dengan disahkannya wacana tersebut. Terlalu banyak pendapat yang sudah mewakili pendapat gw, sehingga pada tulisan kali ini sengaja gw tinggalkan pendekatan secara eksternal dan gw coba menilai wacana tersebut dengan pendekatan internal.

Sebelum wacana ini dihembuskan tentunya masih segar dalam ingatan kita dengan adanya deklarasi konsolidasi 2 partai besar, PDI Perjuangan dan Golkar, selanjutnya kita juga pasti masih ingat bagaimana 20 partai yang banyak diantaranya duduk partai-partai besar seperti PDI Perjuangan, Golkar maupun Partai Demokrat “bersatu menghadang” satu partai yaitu PK Sejahtera pada Pilkada lalu. Bagaimana penilaian pembaca terhadap 3 momen yang terjadi secara berurutan tersebut itu terserah pembaca, yang jelas pada momen awal ketika terjadi konsolidasi antar Partai Golkar dan PDI Perjuangan gw udah merasa sinis dengan tindak tanduk mereka.

Sekarang partai-partai politik baru berbasis agama semakin kuat, masyarakat yang mendukung maupun sekedar memilih tersihir dengan militansi dan kharisma kader-kader partai yang mereka pilih, dengan program kerja yang ditawarkan sekaligus implementasinya, juga dengan kerja-kerja riil yang kader-kader partai tersebut lakukan, dengan demikian dapat dipastikan bahwa masyarakat sudah semakin pintar dalam memilih pilihan. Lantas bagaimana dengan partai-partai besar yang masih memiliki massa yang banyak (gw heran kenapa masih banyak?, mungkin cuma masalah presentasi publik kali ya?) ?, jawabannya kelabakan. Fenomena tersebut, bagi gw merupakan tantangan buat partai-partai besar itu (jangan malah dianggap sebagai ancaman), jawaban yang mereka keluarkan akan mewakili akuntabilitas kader-kader politiknya, sehingga apabila jawaban yang mereka keluarkan tidak memiliki nilai yang berkualitas maka (seharusnya) reputasi parpol tersebut jatuh (tergantung bagaimana masyarakat menilainya).

Seharusnya parpol-parpol besar tersebut menjawabnya dengan konsolidasi kedalam tubuh partai, apakah kader-kader politiknya sudah akuntabel atau belum, itu salah satu persoalan yang wajib dijawab dan diselesaikan. Sayangnya tantangan tersebut dijawab dengan cara usang, mencoba memainkan regulasi yang ada dan membuat regulasi baru yang represif. Tantangan tersebut seharusnya menjadi bahan introspeksi dalam tubuh partai, reformasi bila perlu, menjadikan tantangan tersebut sebagai motivasi untuk mendidik kader-kader politik yang valuable, memiliki kualitas tinggi dan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang bangsa ini hadapi. Memalukan apabila tantangan tersebut dijawab dengan cara-cara diatas, seolah wacana yang mereka hembuskan adalah manifestasi ketidakmampuan mereka untuk bersaing dalam kompetisi politik di negara ini.

Andai saja mereka menjawab tantangan diatas dengan gentle, intelek dan bersih tentunya, maka gw rasa panggung demokrasi akan semakin semarak, semakin penuh warna-warni politik. Setiap parpol menawarkan program kerja dan platform politik masing-masing, masyarakat tinggal memilih parpol mana yang mereka percayai. Dengan cara fairplay seperti itu parpol yang akuntabel, valuable dan solutif akan semakin kuat, sedangkan parpol yang “lemah” dan “tidak bisa bertahan” akan tersingkir dengan sendirinya, sehingga dengan demikian semakin besar pula peluang untuk menyelesaikan permasalahan bangsa ini karena karena kader-kader politik yang pada akhirnya akan duduk di parlemen memiliki akuntabilitas dan kualitas yang tinggi.

Penyeragaman ideologi apabila terlaksana setidaknya akan mengangkat trauma masa lalu ketika jaman orde baru, kita tentu masih ingat dengan kejadian Talangsari maupun kejadian Tanjung Priok. Menurut gw udah gak menarik lagi cara-cara represif seperti itu, orsospol maupun instansi masyarakat seharusnya diberi ruang gerak lebih luas sehingga mereka bisa lebih berkarya dalam mencari solusi permasalahan bangsa ini (tentunya dalam aturan-aturan yang sesuai dengan UU), bukan dengan penindasan sistematis seperti itu, memang dipermukaan terlihat semuanya lancar, aman dan terkendali namun bila kita melihat kebawah maka kita akan mendapat jawaban, “ini hanya akan menjadi bom waktu yang pada akhirnya akan terjadi clash yang disebabkan tidak adanya corong-corong yang diperlukan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat”.

Sekali lagi gw tegaskan bahwa fenomena politik saat ini harus dijadikan tantangan bagi parpol-parpol besar yang ada dan harus diamini secara positif (bukan dengan cara-cara seperti diatas) apabila parpol-parpol tersebut ingin tetap eksis dalam panggung politik di negeri ini. Dan tentunya kita harus tetap belajar dari sejarah. Wallahuallam.

Tuesday, August 28, 2007

Kritik.

Kritik itu seperti kripik, terkadang pedas terkadang juga manis namun tetap terasa nikmat, tidak peduli apakah kritik itu konstruktif maupun destruktif toh tidak mengubah substansi dari kritik itu sendiri.

Kritik tetaplah kripik bagi para penikmat kritik bahkan terkadang para penikmat kritik selalu haus akan kritik karena mereka merasa apapun sifat dari kritik tersebut seperti disebut diatas, kritik tetaplah bagian dari instrumen untuk perbaikan diri.

Gw bukan penikmat kritik tapi gw berusaha untuk menikmati rasanya kritik, oleh karena itu dalam postingan kali ini gw minta waktunya buat teman-teman semuanya untuk memberikan kritikan buat diri gw. Tapi kan belum kenal siapa sebenarnya gw?, setidaknya beberapa postingan yang lalu sedikit banyak mencerminkan isi hati & pikiran gw. Terima kasih banyak atas kesediaan teman-teman. Wallahuallam.

Thursday, August 16, 2007

Arrghh....!!

Habiskan waktu, kulahap semua buku yang tersisa dikamarku.
Habiskan waktu, kutoreh tinta digital kedalam canvas kosong di ps/aics3ku.
Habiskan waktu, kuketik rangkaian kode kedalam console atau text-editorku.
Habiskan waktu, kumatikan lampu kamar lalu diam sambil kurenungi masa yang berlalu.

Stop, berhenti sampai disini, aku lelah.
Stop, rehat untuk sementara waktu.
Stop, lepaskan tangan dari mouse, jauhkan wajah dari layar monitor.
Stop, rebahkan tubuh, pejamkan mata.

Arrghh....!! teriakku dalam bisuku.

Monday, July 30, 2007

Keluh, Enyahlah! (Minjem Bahasanya Mas Agung)

Badan rasanya cape banget; Pegel².
Kerjaan banyak banget; Gak abis².
Tugas nguli apalagi; Dikit lagi uas.
Pikiran berantakan; Gak fokus.

Ngapain ngeluh?
Gak ada manfaatnya.
Gak ada yang berubah klo cuma bisa ngeluh.
Yang ada cuma pembunuhan mental.

Allah, Bapak, Mamah, Gusti, Emul, Fani; Dorongan dan senyuman.
Drx, Botak, Djitoh, Mbong, Gonggo, Udin, Enda, Konyan, Babeh, Eva, Davi, Angay, Micky, Nana, Kebo, Adhi, Imam, Adhay, Kobal, Kukuh n yang lain; Mulai mengerti arti sahabat.
Bidadari tercinta; Entah sampai kapan?
Masa Depan; Surga.

Ok klo begitu minjem bahasanya Mas Agung buat penyemangat, "Keluh, Enyahlah!!!."

Tuesday, July 24, 2007

Puisi Buat Lis

Pagi tadi waktu masih seger²nya, sambil nyetel winamp gw bawaannya mo buat puisi, gak lama Lis dateng, gw baru inget klo dia ultah hari ini, yo wes daripada gak ngadoin apa², ngadoin puisi kan lumayan walau puisinya ece² =D, ok let's cikirot.

Kisah malam 18 tahun yang lalu kembali terulang.
Semua peluh dan harapan menyatu menghiasi roda kehidupanmu.

Masa depan tak memberi tanda, tapi jelajah semangat memberi cinta.
Cinta yang hadir menebar manfaat kepada setiap insan, seperti hari kemarin.

Pagi terasa begitu indah, udara begitu sejuk.
Ketika jendela kamar kau buka, setiap makhluk memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadamu.

Selamat ulang tahun Lis Syukralillah.
Sekali lagi, selamat ulang tahun Lis, semoga semua harapan yang lu cita²kan akan terwujud. Wallahuallam.

Wednesday, July 18, 2007

Malam Yang Melukis Dunia

Malam ini bintang-bintang begitu setia menemani sang sabit dan langit begitu cerah menyelimuti mereka, serasa tidak ada aura negatif malam ini dan seolah hanya keindahan yang menghiasi langit malam ini, gw merasa tenang setelah hampir setengah hari penuh melahap penatnya kehidupan, mungkin malam ini akan lebih terasa begitu tenang klo gw menyalakan beberapa lagu melankolis.

Gw duduk sebentar disamping daun pintu, gw baru sadar ternyata sejak tadi ada seekor hewan yang memperhatikan gerak-gerik gw, gw langsung mengenalinya karena hewan yang memperhatikan gw sejak tadi adalah seekor kucing yang setiap pagi selalu mengeong untuk meminta makan. Ada yang aneh dari kucing itu, dia sendirian, gak biasanya dia begitu, biasanya dia selalu bertiga dengan saudara kandungnya. Kucing itu menatap gw, gw bales menatap, gw perhatikan matanya, yang gw rasakan adalah rasa sepi dari kucing itu, gw juga mulai melihat keadaan-keadaan imajiner darinya, sendiri ditengah malam yang sepi.

Perasaan yang kontradiktif hampir bersamaan menyelinap dihati gw malam ini, ketika gw menatap langit yang begitu luas ketika itu juga gw ngerasa kalau kehidupan adalah kebahagiaan gw, gw rasa gw harus terbang menggapai langit, tapi ternyata gw egois, gw mau menggapai langit yang begitu jauh dengan melupakan kucing yang ada didekat gw yang sedari tadi memperhatikan gw, yang merasa kesepian dengan malamnya atau mungkin dengan kehidupannya. Seharusnya gw belajar banyak dari kucing, dia, si kucing yang mungkin tiap malam merasakan kesendirian sekaligus merasakan luasnya langit tidak pernah mengeluh dengan apa yang dia alami apalagi berharap untuk “meminjam” sayap dari sang burung. Dia lebih suka memperhatikan makhluk “didekatnya” daripada terus berimajinasi bersama luasnya langit. Sedangkan gw yang diperhatikan si kucing hampir melupakan keberadaannya.

Kehidupan di Dunia terasa begitu indah, kita setiap hari terobsesi untuk menggapainya, dengan penuh semangat kita mengejarnya, sayangnya kalau sudah dapat kita gapai kehidupan ini seakan kita sia-siakan seolah kita tidak memiliki manfaat bagi makhluk lain yang begitu setia “menemani” kehidupan kita, padahal kita adalah makhluk sosio kalau kata guru PPKN, entah apa sebagian dari kita mengerti makna itu atau tidak. Jutaan gaji bulanan kita, kita sia-siakan untuk hura-hura, beli ini beli itu, padahal 2,5% dari pendapatan kita adalah milik kaum dhuafa, kita selalu memilih untuk makan makanan yang harganya diatas rata-rata, padahal di pinggir-pinggir jalan kota ini masih banyak kaum dhuafa yang setiap hari merintih kesakitan karena “berpuasa”. Kita juga selalu menyalurkan uang kita untuk membeli kebutuhan tersier yang kurang begitu penting, upgrade PC atau bahkan ganti handphone ke versi terbaru, padahal di beberapa sudut kota masih banyak anak-anak kecil yang berusaha bekerja untuk membeli buku-buku pelajaran.

Kita seharusnya berusaha merasakan posisi mereka agar kita sadar bahwa mereka itu eksis, toh tidak ada salahnya memposisikan diri kita menjadi mereka, coba rasakan bagaimana rasanya menjadi ibu-ibu tua yang setiap hari menyapu jalanan hanya untuk menukarnya dengan makan siangnya, sedang untuk makan malamnya, mungkin “berpuasa”. Jangan lupa juga untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah yang tiap hari harus bergelut dengan sampah padahal imbalannya tidak seberapa, sedangkan istrinya dirumah mencoba menenangkan anak-anaknya untuk bersabar sedikit untuk menunggu ayahnya pulang dan berharap ayahnya itu membawa makanan, sekedar mengganjal perut untuk hari ini.

Mungkin sebagian dari kita akan bertanya apa manfaatnya memposisikan diri sebagai mereka, toh nasib mereka sudah seperti itu dan juga mereka mungkin tidak berusaha. Gw rasa kita salah kalau bersikap seperti itu, sepertinya kita terlalu egois? Gw rasa enggak, kita terlalu jahat tepatnya, kalau sudah begitu seharusnya kita bertanya kepada diri kita pribadi “ada apa dengan hati ini?, hati ini begitu keras, begitu sulit untuk berbagi, lantas apa manfaat saya hidup berdampingan dengan sesama makhluk didunia ini?.”

Kita sebagai kaum yang “lebih beruntung” seharusnya berterima kasih banyak kepada mereka, kaum dhuafa yang senantiasa pada posisinya mengingatkan kita untuk berzakat, membersihkan harta kita, atau bahkan memberikan peluang kepada kita untuk beramal, menjadikan diri ini lebih bermanfaat bagi orang lain, berkaca kepada mereka, menebar kebaikan dan mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk sosio. Ya, seharusnya kita berterima kasih kepada mereka, entah dengan cara seperti apa, itu interpretasi kita masing-masing.

Menutup malam yang penuh makna ini gw berharap gw tidak lagi menjadi makhluk yang selalu menatap langit dan selalu ingin menggapainya dengan melupakan sang kucing, ya, malam ini gw harus memberi makan sang kucing. Wallahuallam.

Monday, July 02, 2007

Perpisahan

"..Ya inilah hidup, semuanya berlalu bersama waktu..."

Bisa dihitung dengan jari bulan Juli menghampiri, dan rencana perpindahan kerja dan tempat tinggal sekaligus berhenti bekerja udah mulai terdengar beberapa hari belakangan. Awal Juli rencananya Bang Baba n Tri pindah ke proyek BNN Cawang, sedangkan Ari pindah ke Cabang Bappenas di Wisma Bakri Kuningan, Mas Agung rencananya pertengahan Juli resign karena dapet beasiswa ke Belanda (gw berharap semuanya berjalan lancar Mas =)) dan gak lama lagi Adhi bakalan pindah ke Tangerang, rumah barunya.

Semakin merasa kesepian? Sepertinya begitu walau gak sepenuhnya begitu, di satu sisi gw ngerasa “kehilangan” (walau ga bisa disebut seperti itu) teman-teman yang baik tapi di sisi lain gw sadar masih banyak teman-teman seperjuangan gw yang lain yang selalu "memberikan senyuman" setiap saat. Makanya gw sebut seperti diatas, sepertinya begitu walau gak sepenuhnya begitu. Walaupun begitu toh rasa kehilangan seperti yang gw alami sekarang tetap ada.

Gelak tawa dan senyuman, itulah yang gw dapatkan dikeseharian gw bekerja bersama Mbong, Bang Baba, Bang Abang, Tri, Ari, Novi, Mas Dida, Mas Albaar, Mas Luwi, Mas Sany, Pak Asep (dan ditambah Agus). Klo Pak Dibby, Bang Ma’mun dan Mas Ole gabung? Wah lebih seru lagi. Sharing pengetahuan yang diselingi candaan, maen futsal, nonton bareng, bicara masalah agama, kerjaan, cinta, motor sampe masalah kuliah mewarnai keseharian gw dikantor. Sampe pernah suatu hari niat gw masuk kantor cuma pengen ketemu mereka, hehe.

Bagaimana dengan Mas Agung?, hmm… gw beda ruangan n direktorat sama beliau jadi agak susah buat ngobrol langsung dengannya, tapi klo ada kesempatan buat ngobrol baik lewat IM atau “ngejegat” abis sholat, gw langsung tancap gas, hehe. Wawasan beliau luas, beliau baik juga arif dan bijak dan yang paling gw suka dari beliau adalah ketika beliau berargumentasi.

Adhi? Keras kepala, terkadang emosional tapi sangat baik, murah hati, dan ga mau nyakitin perasaan temennya. Dia juga orang yang telaten, paling rapih n paling alergi klo ngeliat barang berantakan, klo kata teman-teman “Rumahnya Adhi kaya puskesmas, bersih banget”, dia juga sering jadi tuan rumah klo teman-teman lagi ngumpul. Masih segar dalam ingetan gw bagaimana gw n Barito pagi buta dateng kerumahnya buat numpang tidur, mandi dan sarapan, hehe.

Huff… ya beginilah hidup, disaat kita bersiap untuk menyambut pertemuan disaat itu pula kita harus sadar bahwa perpisahan ga lama lagi akan menyusul. Disaat kita tertawa tentang kejadian-kejadian yang kita alami bersama teman-teman, disaat itu pula kita harus bersiap diri untuk mengemas semua kejadian itu menjadi kenangan. Disaat kita bercerita tentang mimpi² yang ingin kita raih kepada teman-teman, disaat itu pula masing-masing dari kita harus bergegas untuk meraih mimpi² yang baru saja kita ceritakan, ya masing-masing.

Kemasan dari semua kejadian-kejadian yang pernah kita alami bersama teman-teman, tentunya suatu waktu akan kita buka kembali sebagai kenangan-kenangan manis yang terkadang kita sendiri ingin mengulanginya kembali, walaupun dalam kenyataannya gak melulu kejadian-kejadian yang baik kita alami, benturan kepentingan ataupun pemahaman pastinya sering terjadi, tapi gw rasa justru karena beberapa benturan seperti itu, kenangan-kenangan tersebut terasa manis dan rasa²nya ingin dibuka kembali, itu bumbunya kalo kata orang tua.

Gw jadi inget bagaimana Eva merasa kehilangan setelah Agus gw “tarik” ke kantor gw, gw juga jadi inget sama status IM Hary yang kurang lebih isinya “Kita akan merasa sesuatu itu penting bagi kita ketika kita telah kehilangan”. Ya inilah hidup, semuanya berlalu bersama waktu, mudah-mudahan gw bisa ngambil pelajaran dari “perpisahan” ini, dan mudah-mudahan gw bisa memberikan yang terbaik dari diri gw buat teman-teman gw, berusaha untuk selalu memberikan senyuman untuk mereka (walau bagaimanapun suasana hati) sebelum gw merasa mereka itu penting bagi gw.

Terakhir buat teman-teman gw yang ga lama lagi “hijrah”, lewat postingan ini gw mau minta maaf atas kesalahan sekecil apapun yang pernah gw perbuat dan mudah²an suatu waktu kita bisa dipertemukan kembali seperti waktu itu, waktu dimana gelak tawa dan senyuman menghiasi keseharian kita. Sukses buat kalian, Wallahuallam.

Monday, June 11, 2007

Lelah...


Saya lelah, teramat sangat lelah. Lelah terhadap semuanya.
Senin sampai Minggu? Saya hampir lupa dengan sebutan itu.
Pekerjaan, tugas kuliah, tuntutan membuat inovasi sampai masalah hati.
Semua hal tersebut saya rasakan seperti tumpukan sak yang hanya menjadi beban.

Saya ingin istirahat, mungkin untuk selamanya?
Saya mau merasakan belaian angin gunung, percikan air sungai, menghirup segarnya udara pedesaan, tertawa dan bercerita tentang kenangan-kenangan manis masa lalu atau harapan-harapan masa depan bersama teman-teman.
Saya ingin merasakan hangatnya cinta, atau lembutnya kasih sayang dari sang belahan hati.
Melihatnya tersenyum atau sekedar mendengarkan curahan hatinya.

Saya ingin membahagiakan kedua orang tua saya.
Ingin berbagi cinta kepada semua makhluk.
Saya berharap semangat itu akan kembali.
Dan adrenalin yang sudah lama redup akan membara kembali.

Thursday, May 31, 2007

Selamat Datang di Milist MASISISWA

Saya baru bergabung di milist ini beberapa hari yang
lalu, harapan awal si supaya gak ketinggalan info
tentang kampus, jurusan atau materi kuliah yang
diupload di milist ini.

Awalnya milist ini sesuai dengan harapan saya,
beberapa materi yang blum saya punya saya bisa dapat
disini tapi belakangan saya jadi merasa risih lantaran
beberapa postingan terakhir gak ada sangkut pautnya
dengan kampus, jurusan, apalagi materi kuliah, bahkan
saya merasa beberapa postingan terakhir terlihat
seperti bukan dari seseorang yang bisa disebut sebagai
MAHASISWA yang memposting tapi terlihat seperti
MASISISWA biasa.

Seharusnya kita sebagai MAHASISWA dapat lebih cerdas
dan bijak bertindak atau menyikapi masalah milist ini,
kalau masalah sekecil ini di lingkup yang masih kecil
saja kita sebagai MAHASISWA tidak bisa menyikapinya
dengan cerdas, arif dan bijak, tentunya masalah besar
yang terjadi seperti di UISU mungkin saja dapat
terulang dilingkungan kita(mengingat nanti ada hajatan
besar di kampus tercinta kita). Berangkat dari situ
toh kita yang lemah, rapuh, yang tidak bisa berpikir
cerdas, arif dan bijak kemungkinan besar tidak akan
kuat menahan derasnya arus politisasi mahasiswa,
hasilnya? mungkin saja menambah panjang daftar
tindakan tidak patut yang dilakukan oleh mahasiswa.

Lepas dari itu semua saya berharap, mudah-mudahan
milist ini akan terus berjalan lancar, dimoderasi, dan
ada RULE yang jelas tentang tata cara content/isi
postingan, agar mahasiswa-mahasiswa yang awalnya
berharap seperti saya atau malah mahasiswa-mahasiswa
yang memiliki ekspektasi yang besar terhadap milist
ini tidak merasa dikecewakan dengan tumpukan-tumpukan
postingan "sampah" yang hanya memperpanjang storage
meter email yang digunakan. Ayolah kita berangkat
sama-sama membenahi sistem ini, toh saya rasa diantara
kita gak ada yang menginginkan sistem yang buruk dari
mailing list ini. Mohon maaf sebelumnya. Wallahuallam.

--
Regards,
Hidayat Sagita

----ps----
Huh, mungkin sangking keselnya kali ya sampe2 musti ngamuk2 di milist kampus kaya begitu. Mohon maaf buat semuanya. Wallahuallam.

Monday, May 21, 2007

Skeptis Terhadap Perubahan

Malem sabtu sekitar jam 20.00, udara masih terasa dingin diluar dan rintik hujan sisa hujan deras tadi sore juga masih keliatan, di ruang tamu rumah temen gw, gw sama temen gw, Andi namanya, masih nunggu giliran buat dianter ke terminal kampung rambutan sama temen gw yang lain yang lagi nganterin 2 temen gw, kebetulan jam segitu didaerah temen gw udah gak ada angkot yang narik ke terminal, maklum persaingan antar supir angkot dan tukang ojek.

Selang beberapa waktu sambil tersenyum bangga, Andi nyodorin majalah remaja mini bulanannya ke gw, Look nama majalahnya, kebetulan dia adalah salah satu redaksi dari majalah tersebut (ada beberapa temen n orang yang gw kenal juga merupakan redaksi majalah tersebut). “Edisi Milad,” katanya. Sambil bolak-balik lembar per lembar majalah itu, gw coba buka pembicaraan ke dia tentang pandangan gw terhadap perubahan. Akhirnya gak lama kita diskusi.

Gw coba utarakan ‘sedikit’ unek-unek gw tentang pergerakan Islam di Indonesia sambil ‘gw rajut’ dengan apa yang Rasulullah lakukan pada masa Beliau. Klo boleh jujur, gw masih ngerasa skeptis terhadap pergerakan n perubahan Islam di Indonesia, disatu sisi gw ngerasa harus “ngerasa bangga n berdiri sambil bertepuk tangan”, disisi lain gw ngerasa harus “tertunduk sambil menangis” ngeliat perubahan selama ini. Gw anggap pergerakan selama ini lambat n hasilnya gak terlalu terasa, sedangkan ‘serangan’ dari luar semakin cantik dan mengalir begitu deras (bahkan sampe pada satu titik puncak terkadang kita merasa aneh, lupa bahkan ‘menyalahkan’ dengan ‘nilai-nilai’ yang benar dan seharusnya dipegang teguh, ironisnya malah terkadang kita mengagungkan ‘nilai-nilai’ asing yang merusak, dan pada akhirnya kita sering mendengar ucapan/sebutan seperti “gak gaul”, “masih kaku”, dsb.), gw juga pernah ngerasa tertekan, tertekan untuk terus berpikir bagaimana caranya membuat satu konsepsi yang cantik, gerakannya harus massive, cepat dan professional (sampe sekarang masih jadi cita-cita belaka, huff… ).

Disini gw gak berpikir/bicara tentang keunggulan/mengunggulkan suatu ras atau agama, tapi lebih kepada perubahan tatanan sosial, perubahan kepribadian individu-individu yang akhirnya menjadi masyarakat atau bahkan nation untuk menjadi lebih baik, menjadikan individu-individu yang bertingkah laku baik, jiwa sosialnya tinggi, cerdas, kreatif, beradab n yang paling penting beragama yang pada akhirnya berujung kepada masyarakat yang madani, beradab dan memiliki kebudayaan yang tinggi.

Kenapa gw bisa berpikir seperti itu? Ngerasa perlu adanya perubahan sosial?, karena yang gw rasakan saat ini adalah semakin berkembangnya gejala sosial ke arah negatif, binatang-binatang bersafari yang banyak berkeliaran di tempat ditentukannya arah pergerakan bangsa, orang-orang borjuis yang semakin gencar membangun jurang pembatas antara mereka dengan si miskin sampe semakin banyaknya muda-mudi yang lupa dengan tugas mereka sebagai calon-calon pengemban amanah bangsa, penerus bangsa. Mungkin pandangan gw terlalu sinis dan mungkin perubahan itu eksis, tapi ya emang itu yang gw rasakan saat ini, skeptis terhadap perubahan bahkan mungkin terhadap semua hal.

Disaat bara api sedang panas-panasnya Andi seolah-olah dengan tenang menyiramkan air dingin ke hati gw. Dia juga mencoba mengutarakan apa yang dia rasakan, juga pandangannya. Dia emang gak mendikte gw untuk ngeliat segala sesuatunya (apalagi pergerakan) dari prosesnya, tapi dari semua yang diutarakannya poin itu yang gw dapet. Gw kembali ngerasa sadar bahwa hasil bukanlah segala-gala-nya tapi proseslah yang membentuk segala-gala-nya, gw juga sadar bahwa selama ini yang gw pikirkan hanyalah hasil, hasil dan hasil tanpa memperdulikan proses, atau bahkan apa yang telah gw lakukan untuk mendapatkan hasil tersebut dan gw juga ngerasa musti ngerubah cara pandang gw dari ‘hasil’ ke ‘proses’.

Jadi inget lagunya Joan Baez yang Donna Donna, Stop complaining said the farmer, who told you a calf to be, why don’t you have wings to fly with, like a swallow so proud and free. Yap, gw kerjaannya jadi tukang protes selama ini tapi apa sumbangsih gw buat ‘pergerakan’(dalam hal ini ‘pergerakan menuju yang lebih baik’)?, gw rasa blum ada. Mungkin salah satu solusinya adalah ikut dengan salah satu ‘pergerakan’, tapi sampe sekarang gw masih enggan buat gabung dengan ‘pergerakan’, gw masih mau menjadi individu independen, masih mau jadi karang besar ditengah lautan. Mungkin suatu saat nanti disaat gw udah punya cukup banyak alasan atau mungkin situasi yang mendesak gw, gw akan ikut kepinggir buat gabung dengan karang-karang yang lain, insya Allah.

Gak kerasa 2 temen gw udah dateng buat ngejemput gw dan Andi, kami berduapun bangun dan siap-siap buat pulang, pamit sama orang tua temen gw lalu berangkat menuju terminal.

Cuma mau mengingatkan sekali lagi, kalau ini semua cuma curhatan belaka dari seorang anak muda yang kurang ilmu tapi mau menjadi lebih baik, jadi klo ada yang gak setuju ya silahkan ataupun ada yang mau ngasih kritikan, hayulah dengan senang hati diterima, segitu aja. Wallahuallam.

Friday, April 27, 2007

Kesimpulan...

Semalem sekitar jam 1/2 12an baru selesai baca buku terakhir dari 3 buku yang gw beli secara online, buku²nya :

- Holocaust Industry.
- Soe Hok Gie, Perjuangan Intelektual Muda Melawan Tirani
- Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan.
Plus inget sama 2 buku lain :
- Dibawah Lentera Merah.
- Sang Pejuang Pemberontak.
Gw mencoba ambil kesimpulan dari ketiga buku tersebut plus ingetan gw sama 2 buku lain yang udah disebut diatas, kurang lebih seperti ini :
Kemungkinan semakin ke "kiri" semakin besar apabila tendensi sosialis kebawah semakin besar namun tidak tersalurkan, kekecewaan kolektif terhadap kaum "kanan", frustasi kepercayaan ditambah kurang luasnya pemahaman tentang konsepsi Islam yang kaffah.
Jadi, menurut gw lagi, buat pemuda² yang punya semangat juang tinggi(radikal mungkin?), kejujuran yang dalam, intelektualitas yang luas, idealisme yang kokoh, yang gak sabaran ngeliat perubahan(revolusioner mungkin?) n yang nda mau semakin ke "kiri" ada baiknya menyalurkan kemampuan organisasinya ke organisasi² masyarakat dalam arti yang luas(yang terpenting perlunya selektif, kritis, gak taqlid buta(gak dogmatis mungkin?) n gak apatis terhadap organisasi² yang mau dipilih (lebih sabar mungkin?)), selain untuk menyalurkan kemampuan n bakat juga untuk memberikan kontribusi buat pembangunan bangsa ini. CMIIW. Wallahuallam.

Wednesday, April 25, 2007

Benci? Ayo Ambil Keuntungan

“Mo, boleh minta tolong gak?”
“Pastilah, masih kaku aja, minta tolong paan mangnya?”
“Lu bilang lu abis gajian ya?, gini, nyokap gw sakit gw udah bawa ke poliklinik tapi gw gak bisa nebus obatnya duit gw kurang, nah gw mo minjem barang cepe ceng dulu donk, tapi gw gak bisa ganti bulan ini, insya Allah bulan depan gw ganti, lu ada kan?”
“Emm… hmm… emm…”
Gimana Mo bisa kan?”
“Emm… gimana ya?”
Bisakan Mo??”
(Tiba-tiba teman Momo yang gak begitu gw kenal lewat n langsung ngajak dia maen bola)
“Jadi gimana Mo?”
“Mi gw cabut duluan ya, sory gw ada urusan”
“Mo trus gimana nih? Gw minjem duit dulu sama lu”
“Duluan ya Mi, bye”

Jleb, langsung ke hati cuy sakit banget rasanya, ini kali ke 3 gw dapet perlakuan kaya begitu dari dia, gak abis pikir gw, orang yang udah gw kagumin setiap saat atas omongan-omongannya tentang solidaritas, yang udah gw jadiin panutan setiap waktu, yang tiap hari ngingetin gw tentang pentingnya persahabatan, ternyata mengkhianatin apa yang udah dia ucapin setiap hari. Setiap hari dia yang selalu bilang ke gw klo solidaritas itu penting banget bagi persahabatan kita berdua, setiap dia butuh sesuatu gw selalu ada disamping dia buat nolong dia, tapi apa yang udah dia lakuin ke gw?, mana balesannya ke gw? kemana omongan2 dia tentang solidaritas? Tentang persahabatan? Terbang bersama tiupan anginkah? Atau udah masuk sistem pencernaan bersama air liurnya? Sial, sakit ati gw, benci... benci… pokoknya benci titik.

Et…et… udah, udah, cerita si Momo n Samiun diatas udah abis, gimana? Ikutan sebel, benci, kesel n rasanya mo nonjok si Momo kaya si Samiun? Atau malah mau mendiskreditkan si Momo sebagai orang yang munafik atau bahkan penjahat tulen?, hmm… terlepas dari persepsi ataupun reaksi negatif dari masing-masing pembaca tentang contoh kasus diatas, ada satu pertanyaan yang seharusnya timbul setelah kita ngalamin atau minimal ngedenger tentang kejadian seperti contoh kasus diatas, secara, tipikal kejadian seperti itu sering terjadi disekeliling atau bahkan di kehidupan kita sehari-hari.

“Hal positif apa yang kita bisa ambil dari kejadian diatas?”, yup kurang lebih pertanyaan seperti itu yang musti kita jawab setelah kita ngalamin atau ngedenger contoh kasus seperti diatas, ya… minimal untuk ngebuat hati tenanglah. “Pelajaran gratis”, yap satu keuntungan besar yang dapat kita ambil dari contoh kasus seperti diatas, liat bagaimana si Momo telah mengajari kita betapa sulitnya konsisten atas apa yang telah dia ucapkan, bagaimana si Momo telah memberitahu kita betapa pahitnya dikibulin, betapa gak enaknya disebut sebagai orang munafik dan masih banyak lagi. If we hate it why we still do it?, yap si Momo udah sukses dan susah payah nempatin dirinya sebagai life sample, lantas kenapa kita nggak berterima kasih kepadanya dengan tidak melakukan tindakan kurang baik yang telah Momo contohkan kepada kita?. Tidakkah tindakan Momo juga bisa menjadi sindiran atau teguran kepada kita bahwa if you hate it never do it!.

Belakangan pikiran gw terusik sama tindakan-tindakan amoral dari para pemimpin bangsa (eksekutif, legislatif maupun yudikatif), aseli gw gak suka banget sama tindakan mereka, sebagai pemimpin bangsa mereka gak pantas berperilaku amoral seperti yang telah mereka lakukan, tapi setelah dipikir-pikir lagi, kenapa gw harus musingin keburukan orang lain ya, toh gak ada untungnya buat gw, sedangkan gw sendiri? Hmm… masih suka berperilaku seperti mereka ternyata, gw frontal klo nentang apa yang namanya korupsi, tapi gw sendiri terkadang masih suka make telpon kantor buat urusan pribadi, huff (astaghfirullah).

Be better than them. If I hate them I don’t want to be them, paling enggak itu jawaban dari hati gw, ya… setidaknya tindakan mereka bisa jadi bahan ‘sentilan’ buat diri gw pribadi atau bahkan satu pelajaran hidup bahwa “ini yang gw lakuin salah loh, jadi jangan diikutin”, mungkin contoh kasus andai suatu waktu ketika gw mau ngelakuin tindakan yang seharusnya gak gw lakuin n kebetulan gw benci karena tindakan tersebut juga dilakuin sama orang yang seharusnya gak ngelakuin itu (muter2 mode : on :P), gw gak jadi ngelakuinnya karena I don’t want to be them. Yah mudah-mudahan aja konsepsi kecil2an kaya begini bisa terlaksana n bisa bermanfaat amin…, hayu hayu introspeksi diri. Wallahuallam.

Thursday, April 19, 2007

Tutup Mata Sampe Mati!!

Penembakan Virginia Tech : RI Sulit Batasi Mahasiswa ke AS
Jenazah Partahi Tiba di Jakarta Minggu 22 April
Penembakan Virginia Tech : Bang Mora, Hero dari Indonesia
3 judul berita diatas gw ambil dari situs berita online detik.com, sebenernya gw rada risih sama berita mengenai penembakan di Kampus Virginia Tech itu, yang gw permasalahin sebenernya bukan tentang kejadiannya, tapi lebih ke pemberitaannya. Pemberitaan itu menurut gw terlalu dibesar-besarkan kalo dibandingin sama genosida yang terjadi di Palestina, liat bagaimana pers Amerika menyebarkan berita tentang penembakan itu dengan gaya hiperbolanya, dan pers kita? ikut-ikutan!!, seolah-olah takut dibilang kalah jiwa hiperbolaismenya sama pers luar.

Tapi liat bagaimana pers Amerika dan pers kita seolah-olah tutup mulut n tutup mata padahal mereka seharusnya tau kalau pembantaian di Palestina itu terjadi setiap hari, siang malam, seharusnya mereka juga tau yang dibantai disana itu jauh lebih dari 33 orang dan seharusnya mereka juga tau objek yang dibantai disana bukan sekedar mahasiswa yang masih terlihat gagah yang masih bisa melakukan perlawanan, tapi yang dibantai disana di Palestina sana itu ibu² tua dan bayi² atau anak² yang masih terlalu manis dan imut buat berlumuran darah.

Gw gak mau mungkir, emang ada orang Indonesia yang meninggal disana, tapi sekali lagi bagi gw pemberitaannya terlalu dibesar-besarkan, lebih keliatan seolah-olah kita bangga warga kita mati ditembak di Amerika sana. Kita seolah-olah seneng bicara tentang bualan yang diajarin sama orang barat daripada bicara tentang kebenaran. Sial!!. Mo sampe kapan kita tutup mata kaya begini? sampe mati?

Wallahuallam.

Monday, April 16, 2007

And Finally Sagita Returns...

Alhamdulillah akhirnya bisa ketemu internet juga nih hari, beberapa hari kemaren abis dikasih peringatan sama Allah, gw sakit. Mungkin karena kurang sedekah n sholatnya belakangan gak bener kali ye.

Sekarang si blum masup kantor, masih istirahat dikit, besuk insya Allah udah mulai masuk, jadi sekarang lagi diwarnet nih, tangan gatel hampir seminggu gw gak megang kebod (keyboard-red) jadi sekarang kewarnet cuma mau maenan kebod doank, huahahaha...

Oia besok Riris uan, wah gutlak pokoknya, mudah2an semuanya berjalan lancar n hasilnya memuaskan, amin...

Udah ah segitu aja, mo ngabisin sekaleng ponori sweat n 3 bungkus bang beng abis itu cabz...